Select Menu
Powered by Blogger.

Entri Populer

Translate

» » » Kadar Empati Menurun Di sebabkan Proses Stres Yang Berkepanjangan
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

 Dalam kajian ini, periset memberikan obat penghambat stres kepada tikus. Mereka kemudian mengamati respons para tikus itu ketika dihadapkan dengan tikus lain yang sedang kesakitan. 

Stres Yang Berkepanjangan
Stres ternyata menurunkan kadar empati seseorang terhadap orang lain. Dan, biasanya penderita stres tidak mengetahui hal tersebut.

Dalam sebuah uji coba yang dilakukan pada tikus dan manusia, periset menemukan, empati terhadap orang asing meningkat ketika hormon stres diblokir obat tertentu. Memainkan video game yang menyenangkan bersama orang asing juga terbukti memiliki efek yang sama terhadap obat itu.

Kajian sebelumnya memperlihatkan kemampuan merasa atau berbagi rasa sakit orang lain bukanlah sesuatu yang unik bagi manusia. Tikus pun bisa merasakan empati. Tapi, di kedua spesies ini, empati menjadi lebih kuat antara mereka yang saling mengenal dan semuanya hilang di antara mereka yang tidak saling mengenal. Level stres juga terlihat meningkat baik pada tikus dan manusia di tengah kehadiran orang asing.

Mereka menemukan, tikus menjadi lebih empatik dan lebih iba terhadap tikus asing, bereaksi dengan cara seperti yang biasa mereka lakukan terhadap tikus yang mereka kenal. Ketika tikus berada di bawah tekanan, mereka kurang berempati terhadap tikus lain yang sedang kesakitan.

Uji coba terhadap mahasiswa S1 dengan menggunakan obat yang sama memperlihatkan efek yang sama. Mereka diminta merata-rata rasa sakit seorang kawan atau orang asing yang tangannya dimasukkan ke dalam air es selama 30 menit.

Mahasiswa yang mengonsumsi obat itu mengaku merasakan rasa sakit orang asing itu lebih mendalam ketimbang mereka yang tidak mengonsumsi obat itu. Mereka juga memperlihatkan ekspresi muka yang lebih merasakan sakit dan menyentuh tangan mereka sendiri lebih sering ketika melihat orang lain sedang kesakitan.

Jeffrey Mogil, penulis kajian yang juga neuroscientist dari McGill University di Montreal, Kanada, menyatakan, penemuan timnya ini mengindikasikan sistem stres otak bisa menjatuhkan “veto” terhadap sistem empati kita. “Hanya sejumlah orang yang akan menyadari ada respons stres ketika mereka berada di sebuah ruangan dengan orang yang tidak mereka kenal,” imbuh dia seperti dikutip BBC.

Tapi, dia menemukan kunci mengurangi level stres dengan cepat adalah memainkan permainan pemecah es yang sederhana. Dalam kajian itu, sejumlah mahasiwa yang tidak saling kenal memainkan sebuah video game yang mensyaratkan mereka bekerja sama untuk memutar lagu yang terkenal. “Pada saat tes, tidak ada lagi stres,” ujar Mogil.

Dia juga menyatakan, menarik bahwa dampak stres terhadap empati nyaris sama antara tikus dan manusia. “Ini juga mengindikasian tikus lebih rumit dari yang kita pikirkan atau bahwa prinsip interaksi sosial manusia lebih sederhana dari yang kita pikirkan,” ujar Mogil. 


Terimah kasih telah berkunjung ke blog kami dan semoga article ini bermanfaat

Good Luck Dan tetimah kasih berkunjung ke blog : http://gaknyangkah.blogspot.com/

About Queen Moreno

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post